Lemparan pertamaku: A Million Ways To Die In The West

A Million Ways to Joke by Seth

117878_gal

Siapa tidak familiar dengan nama Seth MacFarlane? Namanya melambung melalui komedi dan animasi, yang cukup populer sekarang ini, yaitu Family Guy, American Dad! dan The Cleveland Show. Di film A Million Ways to Die in the West, Seth memproduksi, menyutradarai, turut menulis dan memainkan peran utama sebagai Albert Stark. Sudah pasti genre film ini sesuai dengan kelebihannya: komedi. Ga sembarang komedi, tapi komedi ala Seth.

Film ini seolah bangga sekali menyatakan dirinya sebagai produk MacFarlane. Candaan seputar rasis, hubungan intim, bahasa yang vulgar, pemandangan yang flashy mengawali pengantar awal film dan terus sepanjang film sampai akhir. Jelas kekuatan komedinya ada di sini.

Sayangnya, dibalik kekuatan itu film ini hampir kosong, tanpa tujuan kuat yang bisa mengangkat penonton. Bisa dibilang, film ini setingan mahalnya panggung stand-up comedy Seth, sebesar US$ 40 juta, atau kurang lebih 400 miliar kurs kita (mungkin lebih). Dan Seth dengan leluasa menuangkan ide-idenya di sini dibantu tim penulis lainnya.

Film ini menampilkan nama besar seperti Charlize Theron, Liam Neeson, Giovanni Ribisi untuk membantu Seth tampil lebih sentral sebagai Albert Stark, tapi tidak memukau. Nama-nama itu biasanya mengisi layar sebagai protagonis dan karakter utama, namun di sini boleh mengalah demi projek Seth. Akting mereka memang kelas atas, tapi jelas tidak di film ini, walau kadang cukup meyakinkan, sedikit, dan sesekali, kalau tidak sama sekali.

Dengan plot yang putus-putus dan tidak masuk akal, penceritaan dan realisme bukan itikad film ini. Lagi-lagi plot hanya memberi jalan untuk ide-ide Seth. Konsep naskah modern-day-serial-TV dengan latar wild-wild-west. Seperti menghidupkan The Family Guy dan Back to the Future III. Alhasil, semua jargon, ekspresi, frasa, perilaku berkata-kata, berkomunikasi, bahkan cara karakter berpikir di film semuanya sama sekali tidak masuk akal dan tidak nyata.

Ya, hal ini biasa terjadi di produk Hollywood, tapi maksudku, sama sekali tidak membawamu ke tahun 1882, tahun penceritaan film. Kostum yang sangat bersih dan bersinar, seolah ada loundry di zaman itu. Rambut, kumis dan janggut seolah produk metroseksual memang sudah mainstream.

Paradoks, di awal film narator mengutarakan fakta untuk mengingatkan penonton kalau wild west itu daerah barat yang liar dan sangat parah untuk hidup. Semau Seth sajalah.

Seth, bagaimanapun, sangat menikmati elemennya di sini. Theron sebagai rekan dialog mungkin benar-benar menikmatinya selama syuting. Kadang, terasa seperti tawa yang tidak dibikin-bikin. Mungkin Seth benar-benar lucu.

Kembali lagi. Jangan berharap menemukan benang merah keseriusan di film ini. Karena segala sesuatu dibikin untuk mengutarakan Seth. Beberapa ide candaan memanfaatkan rating R dan ada juga yang lainnya, seperti slap-sticks, hyper-real, kontekstual, mimicing atau ya candaan biasa yang berhasil jadi lucu, seperti candaan tentang tersenyum di foto. Kalau penonton mau bernostalgia dengan tembak-menembak, dunia barat yang liar, jangan tonton ini.

Referensi Seth untuk hal sci-fi disisipkan. Ada deLorean, ‘doc’ dan ‘great scott!’ Tidak penting sih. Materi Seth memang cukup banyak untuk diumbar. Di tema lain, film ini gagal, atau tidak berani, menenggelamkan diri ke segi thriller, walau ada beberapa peluangnya. Positioning Seth jelas di sini. Setelah berhasil di ‘laga’ pertamanya, Ted, dia mengukuhkan dirinya untuk menjadi komedian sejati. Ada tema broadway dancing dan lagu ciptaan dengan lirik olok-olok. Hemat adegan laga hanya untuk memeriahkan.

Ada hal yang saya catat cukup baik meski tidak menambahkan nilai film ini (karena sudah tidak penting lagi). Pemandangan setnya luar biasa indah. Penonton akan menikmatinya di layar lebar bahkan di DVD. Gunung, sungai, sunset, hyperlapse dan gurun terasa segar.

Soundtrack dan musik pengiring-nya bagus. Tapi lagi-lagi memang konsisten mendukung komedi. Kadang terlalu bagus sampai terasa surreal dan tidak pantas.

Tidak pernah film wild-west tradisional memerlukan spesial efek yang serius. Tapi ada penampakan tidak penting tapi keren di sini. Tidak keren seperti Avatar. Tapi cukup keren untuk menggelontorkan uang untuk membayar perusahaan SFX.

Di samping semua itu, hubungan judul sama sekali tidak memerlukan skrip. Sama sekali. Makna judul dimunculkan sepanjang film, disisipi diantara adegan demi adegan, seolah iklan 10 detik. Tanpa film itu sendiri, mungkin hanya jadi film pendek 3-4 menit. Bahkan tidak sampai satu juta!

Dengan rating R, jelas ini bukan komedi untuk anak-anak. Film ini jelas tidak akan diputar di Indonesia. Terlalu banyak yang akan disensor. Film berdurasi 1 jam 56 menit akan membuat penonton keluar dari bioskop dengan penyesalan. Tonton DVD-nya saja deh, kalau masih mau mencoba, karena tidak akan muncul bahkan di HBO atau Cinemax sekalipun.

Toto
0

Leave a Reply

Basic HTML is allowed. Your email address will not be published.

Skip to toolbar